Sunday, March 30, 2014

Kehilangan: Adil Kah?

Ketika kamu tau, ini bukan lagi tentang waktu…. Tapi ketidak adilan.
Entahlah, aku merasa hidup ini sungguh tidak adil.
Misalnya saja, pernahkah kamu bertanya apa rasanya ketika seseorang mengalami musibah kebakaran? Seluruh harta bendanya habis dalam sepuluh menit saja.
Menurutmu, adil kah itu?

B A S E D   O N   T R U E   S T O R Y
“La Cinquantaine”
Waktu itu, aku baru saja lulus dari Sekolah Menengah Pertama dan memulai hari pertamaku di jenjang pendidikan yang berikutnya…
Putih abu-abu berhamparan di lapangan SMA Revolusi. Pagi ini, siswa-siswi baru telah bergabung dalam barisan. Upacara bendera hari ini adalah yang pertama bagi mereka di tingkat Sekolah Menengah Atas. Tepat setelah upacara berakhir, ruang-ruang kelas mulai terisi gelak tawa dan gerutu, koridor dihiasi lalu lalang manusia, makanan dan minuman di kantin disambar dahaga pasca pidato Kepala Sekolah yang menghabiskan waktu hingga enam puluh menit itu. Gisya segera menduduki bangku terdepan di ruang kelas X.2.
Aku menyadari kehadirannya untuk pertama kalinya…
                Bel sekolah untuk jam pelajaran pertama dimulai telah berbunyi. Namun, riuh di dalam ruang kelas tidak juga mereda. Di tengah kericuhan decitan bangku dan meja kelas serta kegaduhan orasi personal dengan masing-masing kepentingannya, terdengar suara petikan gitar samar-samar oleh telinga Gisya. Suara itu datang dari gitar yang sedang dimainkan oleh seorang laki-laki yang duduk di sudut belakang kelas.
                Anak laki-laki itu memainkan sebuah lagu klasik. Betapa aneh bagi Gisya, dalam suasana yang demikian anarkis, bagaimana mungkin ada orang yang mampu berkonsentrasi memainkan sebuah lagu yang sangat tenang, dengan tingkat kesulitan yang tinggi, dan melakukannya dengan penuh penghayatan. Namanya Fino. Dia baru saja pulang dari studi musik selama dua bulan di Jepang. Dia pendiam, pemalu, dan kurang bersosialisasi. Sangat jauh berbeda dengan Gisya yang periang dan ramah.
Setelah selama dua pekan aku mendengar petikan sayup itu bergaung lembut sekali. Aku mendahagakan pengetahuan yang lebih dari sekedar keindahan nadanya. Lagu yang dimainkan olehnya berjudul La Cinquantaine…
                Gisya mulai sering duduk di belakang untuk mendengar petikan gitar Fino dengan lebih jelas. Sampai beberapa bulan berlalu, Fino pun menyapanya.
“Suka lagu klasik?”
“Gak juga sih, gue malah baru tau lagu klasik ternyata enak didenger setelah denger lo mainin di gitar lo…”
“Oh, pantesan kayaknya lo menikmati banget. Biasanya stigma masyarakat sih lagu klasik tuh susah dan ngebosenin hahaha. Gue gak memungkiri, itu pasti dirasakan oleh sebagian besar orang.”
“Gak tau juga sih ya kalo lagu yang lain, tapi lagu yang lo mainin gue suka banget!”
Aku sadar, aku mulai membiaskan fokus. Aku bukan hanya menyukai lagunya, tetapi dia…
                Gisya kerap menghabiskan waktu menemani Fino berlatih di sebuah sekolah musik di pusat kota. Baginya, Fino bukan hanya sebuah motivasi sekolah atau hiburan di tengah kepenatan menerima materi pelajaran, tetapi juga warna dalam hidupnya yang dia yakin belum pernah dia lihat sebelumnya.
Lagu yang dimainkan olehnya ditulis oleh Jean Gabriel-Marie yang judulnya diambil dari kata dalam Bahasa Prancis, artinya “Hari Ulang Tahun Pernikahan yang ke-50 (The Golden Wedding Anniversary)”…
                Tidak terduga oleh Gisya, tahun keduanya di SMA Revolusi kembali akan dia habiskan bersama petikan gitar Fino di sudut belakang kelas.
                “Setahun gue sekelas sama lo, setahun gue denger lo main lagu yang sama setiap hari, terus gue belom tau juga kenapa lo mainin lagu itu terus…”
                “Bokap gue meninggal di Hari Ulang Tahun pernikahannya sama nyokap yang ke-50. Golden Anniversary gitu deh hehe. Lagu ini tentang 50 tahun pernikahan, Gis.”
                “I’m sorry to hear that, Fin.”
Lagunya bagus. Kata Fino, dia membawakan lagu itu persis seperti suasana yang dibuat penulisnya, bahagia. Dia gak sepaham dengan pendapat bahwa kisah kematian itu berarti sedih…
                Setiap hari yang dilalui oleh Gisya, penuh dengan cerita bersama Fino. Salah satunya, waktu Gisya dan Fino harus melakukan sebuah penelitian tentang ODHA (Orang dengan HIV/AIDS). Mereka perlu sekitar dua puluh hari untuk pengumpulan data, karena penelitiannya dilakukan dengan mixed-method (kuantitatif dan kualitatif), sehingga mereka harus banyak berinteraksi dengan ODHA, agar menghasilkan data yang valid dan memiliki reliabilitas yang tinggi.
                Suatu hari, Fino mengungkapkan sesuatu yang tidak pernah diduga oleh Gisya sebelumnya. Setelah hari itu, segalanya berubah. Bagi gisya, cerita mereka menjadi lebih indah dari sekedar menemani Fino latihan dan mendengar Fino bermain gitar di kelas, meski itu pun sudah merekah rona di wajahnya.
Perlu dua tahun baginya untuk menyadari kehadiranku dan menganggap itu istimewa. Hari setelah dia menyatakannya adalah waktu-waktu paling bahagia dalam hidupku…
                Saling bertatapan satu sama lain adalah hal yang menjadi kesukaan Gisya dan Fino. Gisya merasa hal itu membuatnya mengenal Fino dengan lebih baik, karena mengenal seseorang lewat emosinya jauh lebih berharga dibanding perilakunya. Fino memiliki alasan yang lebih sederhana. Dia merasa menatap Gisya adalah hal paling membahagiakan dan…
                “Kamu punya mata yang bagus banget, aku suka banget. Gak bakalan bosen deh aku natap kamu, bahkan sampe kita udah 50 tahun nikah! Hehehe.”
                “Dasar cowok… Makhluk visual, physical-oriented. Kalo udah seratus tahun, gimana?”
                “Tetep gak bosen dong!”
Aku tau semua tentang dia, tetapi ketika aku ditanya dia itu bagaimana, aku hanya akan menjawab dengan satu kata. Dia baik. Pernyataan ini sangat denotatif, dia betul-betul baik…
                Mereka selalu bertemu di luar sekolah sedikitnya seminggu sekali, yaitu di hari kencan universal, hari Sabtu. Fino membawakan bunga dengan warna berbeda setiap minggunya. Tidak pernah terlambat, tepat pukul tujuh malam, Fino datang menjemput Gisya. Gisya suka sekali mengenakan terusan selutut, dengan pita besar menghiasi pinggangnya. Dia tipe perempuan natural, jarang berdandan. Cukup dengan rambut tersisir rapih dan sedikit pelembab bibir.
                Mereka biasanya duduk-duduk di taman kota menikmati malam berlalu dengan perbincangan ringan, hanya untuk saling mendengar. Mereka sangat senang saling mengetahui lebih dalam dengan mendengar. Mereka jarang bertengkar, karena mereka selalu lebih terdorong untuk mendengar daripada berbicara dan mengeluarkan ego. Mereka sesekali berselisih paham, tapi yang terbaik bagi keduanya dengan cepat muncul, karena mereka mau mendengar.
Suatu malam di hari Sabtu, aku menunggunya menjemputku. Aku telah siap dengan terusan berwarna hitam dan pelembab bibir merah muda. Aku ingat dengan jelas, aku menunggunya. Sampai aku mengantuk, sebab hingga pukul satu dini hari, dia tak kunjung datang…
                Di hari-hari mendekati ujian dan berbagai problematika tahun terakhir mereka sebelum lulus, mereka mulai menggunakan waktu kencannya untuk membeli buku soal dan membahas persiapan ujian. Tetapi, itu tidak membuat mereka bosan, karena mereka sama-sama ingin sukses, dimana motivasi terkuatnya adalah mereka satu sama lain.
                “I want to build my future with you. To build a home with you, Fin.”
                Gisya mengucapkan hal itu berulang-ulang. Fino selalu mengangguk dan memeluknya tepat setelah dia mengatakannya. Selalu begitu. Bagi sebagian orang di luar mereka, tentu keseriusan ini terdengar konyol. Nyatanya, satu tahun terjalinnya hubungan mereka terus membentuk mereka menjadi pribadi yang lebih dewasa dalam menjalani hubungan itu. Hubungan yang bukan lagi didasari kebutuhan, keinginan untuk memiliki, dan kecemburuan. Melainkan, hubungan yang didasari komitmen dan konsistensi dalam membangun masa depan bersama.
Kembali kepada analogi tentang rumah kebakaran. Aku dihantam ketidakadilan yang sama. Seharusnya aku berhak menemuinya malam ini. Setidaknya mendengar ia memainkan lagu itu, di taman…
Dalam segala sesuatu yang mereka jalani, Fino kerap mengatakan, “Expect the least”. Tanpa mereka sadari, mereka tidak mengharapkan apapun dari apa yang mereka jalani, selain kebersamaan itu sendiri. Karena, itu lah entitas kebahagiaan hidup bagi mereka. Mereka tidak pernah mengucapkan satu kata itu, tetapi pasti mereka merasakannya.
Bagi mereka, kata itu terlalu abstrak untuk dikatakan. Esensi dari mengatakannya tidak pernah lebih baik dari menunjukkannya. Saling menghargai satu sama lain, saling mengisi hidup satu sama lain, saling berbagi, saling mempercayai, dan saling memahami. Itu lah nilai yang sekiranya merepresentasikan satu kata yang biasa diucapkan dalam suatu hubungan antara perempuan dan laki-laki. Mereka menumbuhkan perasaannya setiap hari, membuktikannya setiap saat mereka memiliki kesempatan untuk itu.
Mungkin, setelah malam ini, dia akan tinggal di sebuah taman yang lebih indah dari taman manapun yang pernah kita singgahi. Pagi harinya adalah bangun tidur teristimewa dalam hidupku. Aku harus tersenyum dalam duka yang mendalam atas kepergiannya…
                Gisya, dengan bibir gemetar, akhirnya mengucapkan kata itu, yang mereka tidak pernah mengerti ontologinya. Dia bersyukur atas satu kesempatan kecil di momen yang sederhana, saat orang berdatangan dengan warna gelap, Gisya menemukan bahagianya yang sunyi.
                Fino pernah bercerita, bahwa kematian bukan suatu kesedihan, karena bahagia tidak harus tertawa, berteriak, menari, dan berwarna-warni. Bahkan, dalam satu warna dan kesunyian, terdapat kebahagiaan yang penting, yaitu kesadaran akan harga suatu keberadaan di saat ketidakberadaan tiba.
Aku mengenakan gaun hitam itu, masih lengkap dengan perona bibir. Rasanya ingin marah, kali ini aku yang membawakannya bunga. Tepat di atas taburan bunga, aku mengucapkan kata itu. Semua kenangan terulang di kepalaku. Entah apa yang salah, tetapi aku mendengar dengan jelas petikan gitar, memainkan lagu klasik…

“La Ciquantaine”.

Monday, March 24, 2014

TENTANG ADVOKASI MAHASISWA RANTAU

Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 semakin menjadi perbincangan hangat ketika sudah dekat waktunya untuk pelaksanaan Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) 2014. Salah satu isu hangatnya bagi kalangan mahasiswa adalah mengenai kesempatan mahasiswa rantau untuk dapat berpartisipasi dalam pesta demokrasi ini. Seperti diketahui, mahasiswa rantau yang sudah terdaftar dalam daftar pemilih tetap (DPT) di daerah asalnya hampir bisa dipastikan tidak dapat menggunakan hak pilihnya disebabkan belum bisa kembali ke kampung halamannya dengan berbagai alasan.

Pada tanggal 04 Maret 2014, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengeluarkan SE KPU NO. 127/KPU/III/2014 tentang Surat Pindah Memilih. Dijelaskan bahwa Formulir Pindah Memilih (Model A.5) yang sebelumnya harus dikeluarkan oleh Panitia Pemungutan Suara (PPS) di kelurahan tempat asal, kini boleh dikeluarkan oleh KPU Kabupaten/Kota domisili sekarang. Hal ini dilakukan atas pertimbangan untuk melayani pemilih, khususnya bagi pemilih yang sedang tugas belajar, tugas kerja, atau pemilih yang pindah domisili di kota lain yang tidak memungkinkan untuk mendapatkan Formulir Model A.5-KPU dari PPS asal.

Di Universitas Indonesia, pihak Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) dan KPUD Depok telah bekerjasama untuk mengumpulkan data mahasiswa rantau UI secara kolektif sehingga tidak perlu mengurus pemindahan milihnya secara sendirian dengan diselenggarakannya Posko Advokasi Mahasiswa Rantau. Posko ini akan menjadi tempat bagi mahasiswa rantau untuk menyerahkan fotokopi KTP, fotokopi KTM, dan surat permohonan pindah memilih. Sedangkan untuk urusan ke KPUD Depok, akan diurus oleh BEM UI. Setelah BEM UI menerima Formulir Model A.5-KPU dari KPUD Depok, BEM se-UI akan menyerahkan formulir-formulir tersebut pada mahasiswa bersangkutan untuk diurus ke PPS kelurahan dimana masing-masing tinggal sekarang agar mendapatkan lokasi Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Berdasarkan wawancara kepada mahasiwa yang sudah mendaftarkan diri untuk melakukan pindah memilih, program ini dinilai baik karena memang sudah seharusnya setiap warga negara diberikan peluang yang seluas-luasnya untuk menggunakan hak suaranya. Di mata mahasiswa rantau yang telah melakukan prosedur dalam program ini, prosesnya tidak memakan waktu, sehingga sangat membantu bagi mahasiswa yang kesibukannya cukup padat. Program ini juga membantu mahasiswa rantau untuk tetap dapat menggunakan hak suaranya. Seperti yang diketahui, sulit bagi mahasiswa rantau untuk kembali ke daerah asal hanya untuk pemilu, terutama terkait finansial akomodasi dan waktu tempuh yang kadang terlalu lama dan dapat mengganggu kuliah. Tidak heran apabila banyak pihak yang mendukung adanya program seperti ini sebagai atribut penyokong kesuksesan pemilu.
          
Meskipun demikian, terdapat pula beberapa pertanyaan seputar nilai yang terkandung di dalam pelaksanaan program tersebut. Pertama, perihal benar tidaknya secara etika politik jika kita memilih caleg yang tidak mewakili daerah asal kita. Menurut Ikhsan Darmawan, selaku dosen Ilmu Politik Universitas Indonesia, hal ini menjadi solusi yang lebih baik ketimbang membiarkan hak suara terbuang karena masalah administratif, dimana sangat kecil kemungkinannya bagi mahasiswa rantau mau pulang ke daerah asal hanya untuk pemilu. Program ini mungkin berbenturan dengan bagaimana memilih caleg yang tidak dikenal oleh mahasiswa rantau. Namun, mahasiswa dapat memilih partai saja, apabila memang tidak berkenan memberikan suaranya untuk caleg dapil domisili yang tidak ia kenal, yang terpenting adalah program ini telah menjawab permasalahan administratif mahasiswa rantau yang sangat krusial dalam keberlangsungan pemilu.
          
Heru, dari Pusat Kajian Politik (PUSKAPOL) Universitas Indonesia, menjelaskan mengenai rasionalisasinya adalah bahwa sebenarnya peserta pemilu itu sendiri adalah partai politik. Sehingga, walaupun kita tidak mengetahui caleg mana yang seharusnya dipilih, setidaknya kita mengetahui partai politik peserta pemilu dan mencoblos lambang partainya. Suara yang kita berikan akhirnya masuk ke dalam partai dan membantu partai tersebut untuk melewati ambang batas 3,5% parliamentary threshold dan 20% presidential threshold. Termasuk halnya bagi pemilih yang mencoblos lebih dari satu nama caleg dalam 1 parpol, tetap dinyatakan sah. Suara dihitung untuk parpol. Peraturan tersebut dimuat dalam PKPU Nomor 26 Tahun 2013 tentang Pemungutan dan Penghitungan Suara di TPS dalam Pemilu Legislatif DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota.
          
Sriyono, selaku anggota Panwaslu Depok Divisi Pengawasan, menjelaskan pula bahwa tugas Panwaslu adalah untuk mengawal dan memantau kebijakan yang dikeluarkan KPU apakah sudah dilakukan dengan baik oleh para peserta pemilu dan pihak terkait. Dirinya menegaskan bahwa keputusan KPU mengenai pindah memilih ini tidak ada yang salah secara prosedural karena tidak melanggar peraturan. Ia menambahkan, di dalam proses pemilu ini akan terjadi banyak dinamika dan tidak menutup kemungkinan adanya banyak perubahan kebijakan yang terjadi. Semua itu dilakukan agar tidak ada pihak-pihak yang dirugikan dan semua warga negara dapat menggunakan hak pilihnya. Ia juga tidak memungkiri adanya konsekuensi dari memilih di daerah domisili sekarang, yaitu mahasiswa rantau akan memilih caleg yang bukan berasal dari daerah yang sama dengan daerah asalnya. Namun, menurutnya yang terpenting adalah KPU dan pihak-pihak terkait sudah memfasilitasi para pemilih rantau untuk dapat menggunakan hak pilihnya terlepas daripada apakah pemilih tersebut mau memilih atau tidak.
          
Kemudian, muncul pertanyaan mengenai status de jure program ini terkait PPS mana yang mengeluarkan formulir untuk mahasiswa rantau. Menurut Nana Sobarna, selaku Komisioner KPUD Kota Depok, Formulir Model A.5-KPU yang sebelumnya harus dikeluarkan oleh PPS asal, kini dapat dikeluarkan oleh KPUD Kota/Kabupaten, dan KPUD Kota/Kabupaten lah yang akan menghubungi PPS asal untuk menghapus data mahasiswa rantau dari daerah asalnya untuk menghindari data ganda. Ikhsan Darmawan menambahkan, secara konsep, tidak ada salahnya melakukan upaya-upaya solutif, dimana terkait mahasiswa rantau memang selalu menjadi masalah di setiap pemilu. Pertimbangannya adalah bagaimana KPU harus senantiasa mampu memfasilitasi jalannya Pemilu dengan sebaik-baiknya.
         
Penjelasan-penjelasan di atas diharapkan dapat memberikan gambaran terkait dengan pelaksanaan Posko Advokasi Mahasiswa Rantau. Perlu ditegaskan bahwa keberadaan posko tersebut dimaksudkan untuk memfasilitasi mahasiswa rantau yang hendak menggunakan hak suaranya di domisili sekarang dan tidak ada unsur paksaan dalam proses pemindahan dapil ini. Harapannya, semoga tidak ada suara yang terbuang sia-sia di daerah asal dan hak suara yang dimiliki bisa dipergunakan dengan sebaik-baiknya.

Thursday, February 6, 2014

JELANG PEMILU 2014: Perlukah Kita Memilih?

Indonesia kerap memperkenalkan dirinya sebagai negara demokratis. Kata demokratis sendiri berarti bersifat demokrasi, yaitu bentuk atau sistem pemerintahan yang seluruh rakyatnya turut serta memerintah melalui perantaraan wakilnya atau sederhananya, pemerintahan oleh rakyat. Maka, dalam jalannya pemerintahan yang demokratis ini, terdapat dua pihak yang harus terintegrasi dengan baik dan bersifat kooperatif dalam sistem, yaitu pemerintah dan rakyatnya. Dari hal ini, segala sesuatu terkait kebijakan yang dibuat oleh pemerintah (wakil rakyat) harus merupakan perwujudan aspirasi rakyat yang merepresentasikan kepentingan kolektif. Mengacu kepada konsep ini, partisipasi rakyat yang diperlukan dalam jalannya pemerintahan tentu sangat besar. Salah satunya adalah ketika berlangsungnya pemilihan umum (pemilu), baik pemilihan presiden dan wakil presiden, maupun pemilihan legislatif.

Kesepahaman terhadap konsep negara demokratis ini tampaknya perlu disuarakan. Kerap kali anggota masyarakat berpikir, "Saya kan hanya satu orang di tengah 250 juta warga negara ini, pengaruh apa sih suara saya dalam pemilu?", mungkin hal ini dapat dibenarkan kalau memang hanya dia seorang yang berpikir demikian. Namun, apa faktanya? Sejak pemilu langsung perdana, pada tahun 2004 lalu, telah terdapat sejumlah besar golong masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya (golput). Dari 153.357.307 Daftar Pemilih Tetap, terdapat 23,34% atau 35.793.595 orang yang tidak memilih. Kemudian, pada pemilu langsung berikutnya, tahun 2009, presentasenya naik. Yaitu, dari 172.359.420 Daftar Pemilih Tetap, terdapat 39,99% atau 68.926.532 orang yang tidak memilih. Hal ini membuktikan, betapa besar pengaruhnya keputusan seorang anggota masyarakat untuk turut memilih atau tidak dalam pemilu.

Fakta yang cukup mencengangkan, selain jumlah golput yang fantastis adalah bahwa jumlah suara yang tidak memilih melebihi jumlah suara perolehan partai pemenang (pemilu legislatif). Pada tahun 2009, Partai Demokrat hanya memperoleh suara sebanyak 20,85% atau 35.936.939 orang, dimana selisihnya dengan yang tidak memilih sebanyak 32.989.593 orang. Maka, muncul pertanyaan baru. Apakah pemerintahan ini adalah pilihan rakyat? Lalu, apakah betul ini adalah 'pemerintahan oleh rakyat'? Jelas hal ini dapat terjawab dengan fenomena ketidakstabilan politik di negara ini yang tampak dari permasalahan krisis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Masyarakat cenderung apatis dalam mengawasi jalannya pemerintahan, karena merasa wakil mereka yang berwenang memberikan definisi situasi dan kepastian hukum dalam negara ini tidak ada bedanya dengan orang asing. Sebagai solusi atas permasalahan tersebut, tidak lain adalah jawaban dari pertanyaan intinya. Masyarakat perlu lebih berpartisipasi politis, dari hal yang paling sederhana, tetapi berpengaruh cukup signifikan, yaitu menggunakan hak pilihnya dalam pemilu.

Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa peran pengawasan sebagai bentuk keberlanjutan dalam berpartisipasi politis juga sangatlah penting. Pengorbanan yang sebenarnya demi kepentingan bersama bukanlah pada lima menit yang kita pergunakan di TPS (Tempat Pemungutan Suara), tetapi pada lima tahun setelahnya, dimana kita sebagai yang telah memilih mereka untuk menjadi wakil kita (dalam pemerintahan), berhak penuh mengawasi segala unsur kinerja pemerintah. Ketika masyarakat berpikir dua kali atau tiga kali lagi untuk berpartisipasi dalam negara demokratis ini, pikirkanlah: Segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan sosial warga negara di suatu negara seutuhnya dipengaruhi oleh setiap keputusan pemerintah (dalam hal ini, sebagai wakil mereka).

Sebuah Perspektif

DEPARTEMEN KAJIAN DAN AKSI STRATEGIS (KASTRAT)
BEM FISIP UNIVERSITAS INDONESIA
Di Mata Mahasiswa dan Dosen

Narasumber:    Togi Prakoso (Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2014)
                        Ikhsan Darmawan, M.Si (Sekretaris Program Studi Ilmu Politik Paralel, Dosen)

TOGI  “Kastrat perlu mencari cara unik dalam bergerak!”
Dalam wawancara singkat dengan sang ketua HMIK ini, beliau menyampaikan beberapa hal seputar Kastrat. Yang pertama, beliau membandingkan kinerja Kastrat  2013 dengan yang sebelumnya (2012). Menurut pendapatnya, kinerja Kastrat di tahun 2012 lebih terlihat, dengan pergerakan yang lebih aktif dan reaktif terhadap isu yang berkembang di tengah masyarakat. Mungkin, hal ini  disebabkan oleh lebih banyaknya isu yang muncul di tahun itu disbanding di tahun setelahnya (2013). Program kerja Kastrat tahun 2013 yang beliau ketahui hanya SKS dan YES, itupun menurut pendapatnya kurang berhasil. Saran untuk Kastrat ke depannya, diharapkan ditemukan cara yang unik dalam rangka melakukan gerakan mahasiswa. Gerakan konvensional dinilai sudah tidak jamannya lagi. Menurut pandangannya, di jaman sekarang ini, betapa sulitnya mengajak mahasiswa ramai-ramai berkumpul untuk mebahas suatu isu, terutama karena penghargaan terhadap waktu semakin tinggi, sedangkan mobilitas di kota yang padat ini sangat menyita waktu. Maka, beliau menyarankan untuk Kastrat mencoba merambah ke bentuk media-campaign melalui jejaring sosial. Kalau sudah mendapat respon dari banyak pihak di jejaring sosial, baru lah melakukan aksi riilnya.

IKHSAN  “Saya dukung kembalinya kultur sospol dalam FISIP, coba kolaborasi!”
Berbincang tentang Kastrat dengan dosen pemerhati gerakan mahasiswa ini tentu menghasilkan kritik dan saran yang sangat membangun. Sejalan dengan perspektif Togi, beliau mengatakan bahwa Kastrat masih kurang terlihat pergerakannya, terutama yang melibatkan orang banyak. Kalau untuk kegiatan rutin internal FISIP, seperti seminar atau diskusi ilmiah, dilihatnya telah berjalan cukup baik. Tetapi, untuk kegiatan yang terbilang besar dan berkala (dalam jangka waktu tertentu berdasarkan momentumnya), menurut pendapatnya belakangan ini agak kurang terlihat. Terutama terkait isu yang krusial, misalnya advokasi kebijakan, tidak begitu terdengar. Kecenderungannya dari tahun ke tahun, gerakan mahasiswa yang seharusnya dimotori oleh Kastrat ini terus turun. Beliau menyampaikan bahwa bentuk aksinya tidak selalu harus demo, kecuali ketika cara itu memang diperlukan. Misalnya, ketika isu-isu yang berkembang menyangkut hajat hidup orang banyak dan perlu dikritisi secara keras, maka harus disikapi atau direspon dengan aksi oleh mahasiswa. Beliau sangat menyayangkan mahasiswa jaman sekarang yang cenderung pasif dalam mengkritisi kebijakan secara langsung. Beliau berpendapat bahwa proses penyampaian hasil pengolahan pemberitaan terkait kebijakan atau Undang-Undang tertantu kepada pihak pembuatnya (dalam hal ini, pemerintah) sangat penting dilakukan oleh mahasiswa, yang sudah seharusnya dimotori oleh Kastrat. Hal tersebut juga merupakan pembeda (dalam lingkup organisasi) Departemen Kastrat dengan Departemen/Biro/Divisi lainnya. Kastrat memang mengemban tugas untuk melakukan aksi langsung, seperti demo, bukan hanya berbentuk seminar dan diskusi ilmiah yang memungkinkan adanya tumpang-tindih fungsi antara kastrat dengan keilmuan.
Terkait isu pemilu yang menjadi fokus Kastrat di tahun 2014 ini, beliau memberikan pesan agar sebaiknya Kastrat mempersiapkan betul target masyarakat yang diprioritaskan, yaitu sebaiknya pemilih pemula (17-21 tahun). Kemudian, karena konsep ini banyak dijadikan landasan gerakan dari berbagai pihak (atau lembaga), sebaiknya Kastrat mengkaji lebih jauh pihak mana saja yang melakukan gerakan sejenis, sehingga dapat meninjau daerah operasi  yang berbeda dengan pihak lain tersebut. Selain itu, pengenalan capres dan cawapres juga perlu diperhatikan. Guna menghindari tendesius, sebaiknya seluruh figur yang diperkenalkan disampaikan dari kedua sisi, yaitu positif dan negatifnya, serta harus berbasis data yang valid. Fenomena yang direspon adalah masyarakat pada umumnya hanya mengenal figur-figur tersebut dari media massa, dimana mereka sendiri yang mengkampanyekan diri, sehingga banyak hal yang tersembunyi. Hal inilah yang seharusnya dibawa oleh Kastrat dalam gerakannya agar masyarakat betul-betul menyerap informasi terkait calon wakilnya secara maksimal.
Yang terakhir, menanggapi tekad Kastrat memulangkan kultur sosial politik ke dalam kultur warga FISIP, beliau sangat mendukung dan menyarankan adanya kolaborasi Kastrat dengan Senbud (Seni Budaya) atau Depor (Departemen Olahraga) untuk memulai pembangunan karakteristik FISIP yang penuh dengan nuansa sosial-politiknya. Karena, memang Kastrat perlu menarik minat warganya dulu dengan hal-hal yang memang disukai oleh mereka (Seni dan Olahraga). Menurut pandangannya, acara tidak harus selalu diselenggarakan terpisah-pisah. Acara seni, isinya seni saja, kemudian diskusi ilmiah, dari pagi hingga sore hari, isinya hanya hal-hal yang ilmiah saja. Tentu akan sangat kurang diminati mahasiswa, karena terkesan membosankan. Sarannya, Kastrat harus berani mencoba variasi baru sebagai langkah awal merealisasikan visi ini. Beliau mengatakan, “Saya sangat senang mahasiswa sudah mulai punya kesadaran untuk mengembalikan isu sosial-politik sebagai karakteristik utama fakultas ini”.


Wednesday, July 3, 2013

It has written by me, as a tribute to all people with cancer...Oh, how much I adore their brave & strong heart :')

Legend Of The Bald Princess
Actually... It was exactly where Cancer began.

Long time ago, in a castle behind a mountain, there lived a king and his queen, named King Lamburgh and Queen Vallene. They had married for fifteen years without any children. In one beautiful morning, they were sitting in the pavilion and drinking tea when suddenly King Lamburgh got and idea of making a party.

“I would like to celebrate our fifteenth marriage anniversary, my dear. It must be very exciting!”, said King Lamburgh.

“Tonight? Yes, must be very exciting. Who will be invited to the party?”, asked Queen Vallene.

“I intend to invite all our relations and partners, all kings and princes, our people, and also fairies.”, answered King Lamburgh.

“Fairies?”, Queen Vallene asked confusedly.

“I hope we could find one fairy who’s able to get us a child, to make you pregnant.”, said King Lamburgh. 

Queen Vallene smiled. Her smile figured out how she also dreamed about having a child.

The night came, then many people attended the party. The castle was very full of voices. People were singing and dancing, also having such a good quality of foods and drinks. In the end of the party, there came fairies to grant King Lamburgh and Queen Vallene biggest wish. One by one tried to use their power to make Queen Vallene pregnant. One by one left, they failed. Finally, the turn for the last fairy came.

“Good evening, Your Majesty. I’m Lavinza Noura, the most powerful fairy. I absolutely will make Queen Vallene pregnant. But, there’s one requirement.”, said the fairy.

“What is it?”, asked King Lamburgh.

“You will have a daughter. She will grow up as a beautiful, elegant, and smart woman. She will become a great leader to your Kingdom and your people. But, you owe my son a marriage. She has to marry my son.”, answered Lavinza.

“Perfect! You deserve that.”, said Queen Vallene.
Since King Lamburgh and Queen Vallene made it as a deal, Lavinza used all her power and did it. Queen Vallene pregnant. That was the most wonderful moment for the Kingdom. It was also the beginning of new days in the castle with their new precious part, Princess Caroline. Princess Caroline grew up as a beautiful, elegant, and smart woman, exactly as the fairy had said.

A week before her sixteenth birthday, King Lamburgh and Queen Vallene started the party preparation. 

“Dad, I want to wear a green gown, may I?”, said Princess Caroline.

“Absolutely you may, sweetheart. We’ll provide anything you need for your birthday party!”, said King Lamburgh.

“Oh...Thank you so much, Daddy! I love you!”, said Princess Caroline.

Queen Vallene and her assistants had sent the invitations to all Kingdoms in that Land. Their castle was decorated with green stuffs and properties. Princess Caroline badly adored green. She once told her mother that green was the most peaceful and calm color. The day of the Princess Sixteenth Birthday Party finally came. Princess Caroline looked hugely gorgeous with the green gown and shoes, also a shiny silver crown on her head. In the party, she met a prince, named Prince Peter. They were dancing and talking all night long. They fell in love each other. Sincethen, they began their relationship. They were such a cute and happy couple.

Day by day, the love between Princess Caroline and Prince Peter grew stronger. In one warm and bright night, Prince Peter and his father came to King Lamburgh’s castle. They intended to meet King Lamburgh, Queen Vallene, and Princess Caroline. At that moment, Prince Peter proposed Princess Caroline. Princess Caroline accepted and Prince Peter wore her a luxurious gold ring on her finger. Sunddenly, Lavinza and her son stood right in the center of the room.

“Lamburgh! How dare you? You have made a deal with me sixteen years ago! You fortunately forget it, don’t you?”, shouted Lavinza angrily.

“Forgive us, Lavinza. It accidentally happened. They were falling in love without a plan. Who’s able to plan the time for love existance between humans? Couldn’t we change the deal?”, said Queen Vallene.

“We could give you golds, diamonds, and beautiful emeralds. Don’t you want it?”, said King Lamburgh. He and his wife were hardly fighting for their daughter’s happiness.

“Shut your mouth up! So, you are now thinking that I’m a begger, aren’t you? It’s enough, Lamburgh. You have broken our deal. You can’t pay what you have owed. Your daughter will spend the rest of her life with a serious disease that none of your generations will ever find the cure. Her pretty hair will fall everyday and become bald. The disease will slowly kill her. Easy, it’s slowly... Hahahaha very slowly!”, said Lavinza before she and her son disappeared.

Princess Caroline innocently stared at her parents. Queen Vallene was crying, her tears wasn’t that much, but her eyes described the trully pain that she was feeling inside. King Lamburgh didn’t have any better choice than explaining everything to his daughter and her husband to be.

“I don’t care. I will marry her. I love her with all of my heart, even any little space of my soul has been being whole hers. I probably can not take the disease out of her body. But, there’s no probability she would face it alone, cause I’ll be there right beside her.”, said Prince Peter.

King Lamburgh and Queen Vallene could not believe in Prince Peter’s decision. Prince Peter and Princess Caroline continued their engagement.

By the time, Princess Caroline realized that the disease totally lived in her. But, she didn’t show that she felt very painful. She smiled, she laughed, she made jokes, she always showed how much she was happy to live with her lovely husband, inside and out. However, her hair kept falling, she became bald. But, it didn’t matter, it didn’t even change any little part of Prince Peter’s heart. He stayed there to love and take care of Princess Caroline. They finally decided to marry. The family of them both were very happy for them. Their marriage ceremony was held sacredly.

“When you were born, Lavinza had given you a big potention in leadership and authority. That’s just what you are supposed to be. That’s just the way you are supposed to through. Now, I’m letting you lead my Kingdom and my people.”, said King Lamburgh.

“We trust you, dearest.”, Queen Vallene whispered while she was hugging her daughter tight.

Sincethen, Princess Caroline led the Kingdom and the people. She was a great leader to them. She visited them every morning. She loved to help the paupers and people with disorders or sicknesses. She didn’t only help them by food or medicines, but with her warm hands, she held them, she took care of them, all of them. Although she became weaker everyday and she knew it wouldn’t be long, she kept strong and tough. Besides, Prince Peter trully accompanied her through her life with the disease.

Year by year, the disease attacked harder and harder. Then, finally came the times where bloods came out from Princess Caroline’s mouth and nose. It was a sign that the end was getting closer.

“Caroline, it’s been seven years. It wasn’t a short time to be through. You are the most beautiful woman I have ever met and the strongest one I have ever known. In this moment, let me know one thing. Were you happy? In those seven years with me and your people?”, asked Prince Peter.

“Peter, I wouldn’t be able to hold on without you near me. There is no word to thank you for every moment you were standing by my side. I’m very happy for those seven years with you and my people. I’m happy to ever lived as myself, to ever spent my ages to struggle for what I’m trully believing in, and to ever done efforts to who were worth it.”, answered Princess Caroline.

“I love you.”, said Prince Peter with tears on his face.

“I’m definitely blessed to love you and be loved by you.”, said Princess Caroline. Prince Peter hug his lovely wife. That was the tightest hug he had ever done to Princess Caroline.

That day was the darkest day to the Kingdom and the people. Deep condolences covered all the land by the death of their hero, “The Bald Princess”, Princess Caroline.

“It is too fast. She’s only twenty-three years old.”, said one of the servants in the castle.

King Lamburgh delivered a speech in his daughter’s honorable funeral.

“It’s never about how long we live, but about how do we live. My daughter had dedicated all her life to you, her people. No matter how short her life was, she had lived as her very best.”, said King Lamburgh.

Finally, King Lamburgh and Queen Vallene gave full authority to lead their Kingdom and their people to Prince Peter. He had learned many things from his wife, he was ready to take that responsibility. Princess Caroline had inspired everyone in her life.

One more thing. The disease which attacked Princess Caroline is now being known as “Cancer”. Hopefully, this story could inspire people with Cancer, all around the world.

THE END 

MORAL VALUE:
• Every owe must be paid as you have dealth, it is unreplaceable and available for eternity.
• No matter how short you live, live as your very best.
• A disease may take your body, your hair, and your organs. But, it will never able to take your heart, your mind, and your skills.
• You may have sicknesses or weaknesses, but never let them have you.
                                                    -Written in August 2012-

Adalah sebuah cerita tentang persahabatan, persaingan, perjuangan, dan pengorbanan...

“Menapak, Membangun Jati Diri”
Jam menunjuk tepat pukul 06.00 pagi. Alarm berbunyi tepat di sebelah telingaku. Kutekan tombol ‘off’, lalu perlahan-lahan kelopak mataku turun menyelimuti mataku. Akan tetapi, baru sejenak terpejam kudengar suara yang sangat kencang meneriakan namaku. Tepat sekali. Mama.
Aku melonjak dari tempat tidurku, kuraih handuk, dan bergegas menuju kamar mandi. Selagi aku mandi, mama sibuk mengoceh dari luar kamar mandi, menasihatiku soal kedisplinan dan tanggungjawab. Aku mengabaikan.
“Aku sudah tau tentang semua yang Mama katakan”, ujarku dalam hati.
Setelah melewati beribu aral melintang, seperti ocehan Mama, kemacetan Cinere yang sudah tidak dapat ditolerir lagi, berjalan kaki dari pasar Pondok Labu, tibalah aku pada saat yang berbahagia, dengan selamat sentausa sampai di sekolah, di depan gerbang SMP Negeri 85 Jakarta.
”Bea, sekali lagi kamu telat, saya panggil orangtua kamu!”, ujar bu Lani, guru IPS yang selalu mengawasi anak-anak yang terlambat.
“Iya, Bu”, aku mengiyakan saja, sebatas formalitas, secara dia sudah mengatakan itu beribu-ribu kali.
Aku pikir hari ini akan jadi hari yang biasa saja, sampai waktu istirahat berakhir. Seorang guru IPS bernama pak Donovan masuk ke ruang kelasku, kelas 8-1.
“Anak-anak, ada sedikit pengumuman, dimohon perhatiannya sebentar…”, ujarnya.
Serempak anak-anak duduk rapih di bangku masing-masing dan menyendengkan telinga mereka.
“Jadi begini, pagi ini sekolah kita baru saja menerima surat dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, atau LIPI, tentang lomba diselenggarakan oleh mereka setiap tahunnya, yaitu Lomba Karya Ilmiah Siswa (KIS) tingkat Kotamdya Jakarta Selatan. Bapak kesini sekedar menginformasikan, bahwa keterangan selengkapnya dapat kalian baca di mading sekolah kita. Sekian dari Bapak. Wassalamualaikum warrahmatullahi wabbarokatuh”, ujar pak Donovan yang lekas pergi meninggalkan kelas kami.
Sejak saat itu, pikiranku terus tertuju pada perlombaan itu. Aku memang tipe orang yang ‘Experience A Holic’ (maniak pengalaman), tidak baik untukku melewatkan begitu saja sebuah kompetisi bergengsi semacam itu.
Keesokan harinya, aku bangun kesiangan seperti biasanya, mendengar pidato harian Mama, terlambat datang ke sekolah, mendapat pesan yang sama dari bu Lani, dan yang lain-lainnya seperti biasanya. Ya, seperti biasanya.
Bel istirahat berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar kelas masing-masing, memadati setiap koridor dan meluncur ke kantin. Sedangkan aku? Sibuk memikirkan perlombaan itu. Aku pun bergegas menuju mading sekolah, hendak mencari informasi seputar lomba itu.
“… beranggotakan empat orang … karya paling lambat diterima panitia tanggal 20 November 2008 …” (membaca dalam hati).
Spontan aku langsung memikirkan siapa saja yang akan kurekrut. Terlintas tiga nama di pikiranku, teman sekelasku di kelas 7, yaitu Tere, Ifa, dan Saskia. Kami bersahabat dalam persaingan. Kami adalah empat pelajar maniak nilai gede ranking kecil. Saat kenaikan kelas 7 ke kelas 8, kami menduduki 4 besar kelas. Aku tidak ingin membuang waktu untuk berpikir lebih panjang lag. Aku telah memutuskan. Kuhubungi mereka dan menyusun rencana.
“Kita sama-sama tahu kemampuan kita, kalo kita bersatu, memenangkan permainan ini tidak akan jadi hal yang sulit”, ujarku menyeringai.
“Iya iya, betul sekali”, ujar Tere yang juga menyeringai.
Ifa dan Saskia hanya tersenyum.
Kami mulai dengan membentuk formasi. Aku sebagai ketua, Tere sebagai pengurus administrasi, Saskia sebagai juru ketik, dan Ifa sebagai anggota. Kami pun memutar otak mencari ide pokok tulisan kami, atau setidaknya, sebut saja topik kajian kami.
Esok harinya, aku terlambat lagi, dan semua berjalan seperti biasanya. Tetapi, kali ini ada sederet daftar orator baru, yaitu Tere dan Saskia, dengan Ifa sebagai time-keeper.
“Be! Kita janji jam 6 ya! ….. (dan seterusnya)”, ujar Saskia.
“Kita nunggu 1 jam, Be! ..... (dan seterusnya)”, ujar Tere.
“Udahlah, kita memperdebatkan masalah ini tuh gak ada gunanya. Jadi sia-sia
kita ijin satu jam pelajaran. Mending kita langsung kerja aja”, ujar Ifa.
“Bener tuh kata Ifa”, ujarku sambil menguap.
Kami berempat pun bergerak menuju kantin. Di sepanjang perjalanan menuju kantin, melewati koridor-koridor sekolah, aku masih jadi pendengar setia dua orator muda yang sedang berpidato dengan berapi-api. Tiba di kantin. Mencari tempat duduk. Hanya tampak beberapa guru yang sedang tidak mengajar sedang asik berbincang sambil meneguk secangkir kopi.
“Kita punya kurang dari dua bulan untuk menyelesaikannya”, Saskia berkata sambil menulis-nulis sesuatu di selembar kertas.
“Ya, dan dari sekitar empat puluh hari itu, kita gak punya duapuluh empat jam dari setiap harinya”, Tere menambahkan sambil menatap kami satu-persatu.
“Boro-boro duapuluh empat jam, paling kita cuma punya sekitar empat jam, bahkan kurang”, kataku dengan setengah suara, secara masih ngantuk berat.
“IYA! Dan kalo lo telat satu jam setiap harinya, kita bakal rugi tujuh dari duapuluh satu jam yang kita punya!”, ujar Tere dan Saskia saling menimpali.
“Gak gitu dong, kan kita pake jam sekolah cuma satu dari tujuh hari dalam seminggu. Berarti kalo gue telat sejam, ya kita cuma rugi satu dari empat jam”, ujarku membela diri.
“Sabtu? Minggu? Gimana?”, tanya Saskia mendebat.
“Ya …”, belum sempat aku menjawab, sang time-keeper langsung menengahi.
Sambil tersenyum Ifa berkata, “Kita harus berhenti membahas hal-hal di luar karya kita. Sebenernya kita mau gimana sih? Kita gak fokus deh”.
“Bener tuh kata Ifa. Harusnya, berapa menit pun yang kita punya, kita gunain buat kerja, bukan debat. Yang berlalu biarlah berlalu”, kataku.
Saskia sigap menatapku geram, sedangkan Tere hanya memasang wajah flat-face (tak berekspresi).
Aku memulai perbincangan agak serius, ”Oke, gue nemu ide tentang topik yang bakal kita bawain untuk karya kita …”
Kami pun sepakat dan memulai semuanya. Lebih tepatnya memulai perdebatan. Perdebatan pertama membahas tentang jadwal penelitian.
“Yaudahlah! Kalo hari ini belum ketemu kata mufakat, kita lanjut besok aja!”, salam penutup perdebatan hari itu dariku.
Seminggu berlalu begitu saja tanpa membuahkan apa-apa. Di setiap jam istirahat, pak Donovan selalu tampak sibuk mengomentari kerangka tulisan kelompok lain. Sedangkan kelompokku? Belum menorehkan segores tinta pun pada kertas kami. Kami mulai membenahi semuanya, membulatkan tekad kami.
Malam itu, sebelum tidur, aku berdoa khusus untuk perlombaan itu. Terutama aku berharap kami bisa sedikit mengurangi egois kami masing-masing. Selesai berdoa, kubuka buku harianku, dan kutulis:
Karena gue udah dilatih untuk menang dan dipersiapkan untuk kalah, gue gak pernah takut menghadapi kompetisi apa pun.
Hidup adalah sebuah kompetisi.
05.00, 15 September 2008. Pagi cerah yang menggemparkan seisi rumahku.
“Kenapa, Ma? Ngeliat Bea kayak ngeliat hantu?”, tanyaku heran.
“Kayaknya hari ini matahari bakal terbit dari barat”, jawab Mama.
Aku hanya menatap Mama dengan wajah tak berekspresi.
“Katanya kamu mau lomba? Kok Mama gak liat ada gejala-gejala persiapan lomba dari kemaren?”, tanya Mama.
“Hari ini baru mau bener- bener mulai”, jawabku.
“Jangan pernah biarkan kesombongan merasuki diri kamu dan menyelubungi tekadmu”, ujar Mama agak ngelantur, melenceng jauh dari haluan pembicaraan.
Aku spontan menatap Mama, mengerutkan kening, memicingkan mata, diam, memasang wajah tidak mengerti.
Lalu aku kembali ke ekspresi normal dan berkata, “Kayaknya bukan cuma matahari terbit dari barat deh, Ma. Tapi, bulan dan bintang juga bakal terbit di siang bolong nih”.
Tepat pukul 06.00. Tiba di sekolah. Tere, Ifa, dan Saskia menyambut hangat kedatanganku.
“Kita mulai nyusun pertanyaan wawancara aja hari ini”, kataku membuka pembicaraan.
“Setuju”, kata Saskia.
Hari itu berjalan seperti biasanya. Sepulang sekolah, aku mulai mengerjakan latar belakang penulisan. Aku baru bisa bernapas lega saat jarum jam menunjuk tepat pukul 11.00 malam. Sudah bisa tidur? Belum. PR-PR menantiku. Satu setengah jam kemudian, baru aku bisa masuk ke kamar dan beristirahat.
Malam itu, sebelum tidur, aku berdoa khusus untuk wawancara-wawancara yang akan kami lakukan. Selesai berdoa, kubuka buku harianku, kutulis:
F aksi = F reaksi. Segala usaha berbanding lurus dengan hasil. Usaha yang setengah-setengah hanya akan membuahkan hasil yang setengah-setengah juga.
Alarmku berbunyi, aku langsung membuka mataku dan segera mandi. Mama tampak senang dengan perubahanku. Aku sarapan dan lekas pergi menuju sekolah.
“Sas, gue udah buat nih latar belakangnya. Nanti lo ketik ya!”, ujarku kepada Saskia.
“Sip, be!”, jawab Saskia sambil tersenyum.
Kami mulai lagi melanjutkan menyusun pertanyaaan wawancara. Lalu, bel masuk berbunyi.
“Kita lanjut nanti siang ya”, aku berkata sambil membereskan alat tulisku.
Waktu berjalan cepat sekali. Bel pulang berbunyi. Aku bergegas menuju kelas 8-2 memanggil Tere. Setelah itu, aku dan Tere naik ke lantai 3 ke kelas 8-5 memanggil Saskia. Lalu, kami bertiga ke kelas 8-8 memanggil Ifa. Panggil-memanggil seperti itu adalah antisipasi agar tidak ada yang sempat ngerumpi dulu. Kantin masih sangat ramai. Kami putuskan mencari koridor kosong dan duduk lesehan. Kami terus menyusun dan memperbaiki lembaran-lembaran kuesioner kami. Tidak terasa sudah tiga jam kami mengerjakannya, hari sudah senja, kami pun memutuskan untuk pulang.
Tiba di rumah bukan berarti tiba waktu bersantai. Aku harus menyelesaikan bab pertama karya kami. Setelah itu, mengerjakan PR. Esok harinya, kuberikan kepada Saskia bagian-bagian pendahuluan setelah latar belakang. Waktu sekolah berlalu seperti biasanya dan setelah bel pulang, kami kembali berkumpul, lalu mencari koridor kosong, dan duduk lesehan.
“Liat deh anak-anak lain, balik sekolah bisa santai nongkrong di kantin”, kata Saskia sambil menatap anak-anak yang berjalan ke arah kantin.
“Iya! Malah anak-anak gaul tuh habis haha-hihi di kantin pada pergi lagi ke Mall. Kita?!”, Tere menambahkan.
Aku dan Ifa hanya diam sambil mendiskusikan kuesioner kami –yang sudah empat hari belum jadi-jadi juga- beserta target-target wawancara.
Malam itu, sebelum tidur, aku berdoa khusus untuk semangat timku dalam mengikuti perlombaan ini. Selesai berdoa, kubuka buku harianku, kutulis:
Masa muda hendaknya tidak menjadi masa yang sia-sia.
Berhati-hati pada masa ini adalah satu keharusan, karena masa muda adalah masa tersingkat dengan kerusakan terberat.
Di sekolah, pada jam istirahat, aku, Tere, Saskia, dan Ifa menemui pak Donovan untuk melihat bab pertama karya kami.
Halaman pertama …
“Manfaat Penggunaan Teknologi Transportasi Bagi Masyarakat Luas serta Dampaknya Terhadap Lingkungan”
Halaman kedua … Ketiga … Dan seterusnya.
“Objeknya?”, tanya pak Donovan.
“KRL dan Metromini, serta masyarakat terkait, pak”, jawabku.
“Oke. Lanjutkan pekerjaan kalian”, ujarnya.
Setelah mendapat coretan-coretan dari pak Donovan, kertas kami pun kami bawa kembali untuk perbaikan-perbaikan.
Hari-hari terus berjalan begitu. Dengan perbaikan-perbaikan di setiap harinya. Selama masih ada coretan dari pak Donovan, berarti tulisan itu harus diulang.
Minggu, 28 September 2008. Jadwal wawancara tahap satu tiba. Kami berkumpul di sekolah tepat pukul 08.00. Lalu, kami berjalan dari sekolah menuju ke pasar dan menaiki salah satu angkutan perkotaan (angkot) disitu menuju pangkalan Metromini 619. Kami mulai dengan mengambil tempat duduk persis di sebelah sopir. Sudah setengah perjalanan, kami masih diam, tidak tahu cara memulainya.
“Be, lo aja buru ngomong”, kata Tere.
“Aduh gue gak bisa mulainya. Gatau gue harus ngomong apa”, jawabku.
“Eh udah buruan! Ini udah mau sampe Blok-M!”, kata Saskia.
“Yaudah deh gue aja”, kata Tere.
Tere segera mengambil ancang-ancang dengan Ifa di sebelahnya sebagai notulen.
Wawancara berjalan kurang mulus. Selalu disela dengan “Apa? Apa? Ulangin, gak kedengeran” dari keduabelah pihak.
“Gila ya wawancara sopir susah banget!”, kata Tere.
“Kenapa, ter?”, tanya Saskia sambil membaca catatan Ifa.
“Begonya gak ketolongan! Gue tanya apa dia jawab apa”, jawab Tere.
“Ya kalo pinter gak bakalan jadi sopir Metromini”, aku menimpali.
“Eh tapi lumayan kok, Ter. Seenggaknya dia inget terakhir kali peremajaan kapan. Padahal kan dia udah tua”, kata Ifa.
Aku, Tere, dan Saskia hanya menatap Ifa dengan wajah flat-face.
Kami pun naik lagi Metromini 619 dari terminal Blok-M. Kali ini, kami harus mewawancarai penumpangnya.
“Gantian ya jangan gue lagi”, kata Tere.
“Udah lo aja, be. Ketua masa gak bisa ngomong”, kata Saskia.
“Iya iya!”, ujarku.
Aku dan Ifa segera memilih penumpang yang hendak kami jadikan salah satu responden.
“Maaf tante, boleh kami wawancarai?”, tanyaku kepada seorang wanita berpakaian dinas pertanda ia seorang PNS.
Dia malah melambaikan tangan sambil memalingkan wajahnya seakan-akan kami pengamen.
“Apaan banget sih dia! Emang gue minta duit apa?!”, gerutuku kesal.
“Udah, be cari yang lain aja yuk”, kata Ifa.
Beberapa kali kami direspon begitu. Seharian kami bolak-balik Blok-M-Cinere hanya dapat lima responden penumpang dan enam responden sopir.
Pukul 06.00 sore kami duduk-duduk di salah satu warung di pinggir jalan.
“Sehari ini gue baru minum satu kali. Good!”, ujarku.
“Untung jadwal wawancara kita Cuma setiap hari Minggu. Kalo tiap hari?! Bisa mati dehidrasi”, kata Saskia.
“Mati dehidrasi sama mati kesel gara-gara respondennya gak karuan semua”, Tere menambahkan.
Kami pun tertawa kecil. Seharian di jalan, bertemu banyak orang, membuatku banyak merenung. Merenungkan masa depan.
Malam itu, sebelum tidur, aku berdoa khusus untuk minggu-minggu ke depan, untuk saat-saat timku menyusun karya kami. Selesai berdoa, kubuka buku harianku, kutulis:
Karena kesejatian seseorang tidak pernah dilihat dari fisik atau materinya.
Tetapi, dari setiap pilihan hidupnya.
Pagi itu aku merasa agak kurang enak badan, pasti karena kelelahan seminggu lalu setiap hari dari pagi sampai sore, belum lagi kemarinnya seharian di jalan.
“Sas, nih bab duanya”, kataku sambil menyodorkan beberapa lembar kertas kepada Saskia.
“Kajian pustaka? Kapan ngerjainnya, Be? Cepet lo gokil”, kata Saskia.
“Haha selow kalo sama gue sih”, ujarku.
Seminggu itu berlalu dengan menemui pak Donovan di setiap harinya. Seperti biasa, minta coret-coretan. Saskia pasti bekerja keras sekali meng-edit semuanya setiap malam.
Minggu, 5 Oktober 2008. Wawancara Metromini 610 jurusan Blok-M-Pondok Labu.
“Kayak minggu lalu aja, gantian”, kata Saskia.
“Oke. Eh, tapi hari ini yang sopir lo ya, Be, gue yang penumpang. Biar ngerasain lo rasanya ngobrol di sebelah mesin metro”, ujar Tere.
“HAHAHA iya iya, Ter, selow”, ujarku.
Wawancara hari itu berjalan lebih baik. Kami mulai memahami orang-orang itu. Sekitar jam setengah tujuh malam, kami menaiki Metromini ke-8 dari Blok-M ke Pondok Labu untuk segera pulang. Kami duduk di sebelah sopir seperti sebelum-sebelumnya dan melakukan wawancara terakhir pada hari itu. Saat melewati Rumah Sakit Fatmawati, penumpang yang ada tinggal kami dengan beberapa orang pria yang duduk berjauhan. Yang satu memakai headset, tampak seperti anak kuliahan, yang satu lagi memakai seragam PNS, yang satu lagi memakai kemeja lengan panjang lengkap dengan dasi, tampak seperti pegawai kantoran, dan yang satunya lagi memakai kaos dan celana basket.
Tiba-tiba pak Syarif (sopir) berbisik, “Dek, jangan keluarin barang berharga ya. Terus turunnya cari tempat ramai”.
Kami berempat spontan bingung plus kaget plus bertanya-tanya.
Lalu, pak Syarif melanjutkan omongannya, “Yang di belakang itu pencopet semua, dek. Pencopet dan penjahat kelamin”.
Berhubung diantara kami tidak ada yang IQ-nya jongkok, dengar omongan begitu tidak ada yang panik, semua reflek acting tenang dan pasang muka tidak tahu-menahu.
“Eh gue masih perawan ya”, tiba-tiba Tere berbisik.
“Gue juga”, kataku.
“Gak ada mukanya semua yang di belakang, Be”, kata Tere.
“Gila kali ya sempet-sempetnya lo berpikir buat diperawanin sama PK. Kalo PK gaul masih mending deh, ini PK metro, brur”, ujarku sambil rolling-eyes (memutar mata).
Tere hanya tertawa-tawa geli.
“Ketauan lo ABG binal, ngarep PK gaul merawanin”, ujarnya.
Aku langsung pasang muka flat-face.
Berjarak beberapa meter dari Rumah Sakit Fatmawati ada polisi lalulintas sedang melakukan razia. Kami langsung turun dan berbisik mengucapkan terimakasih kepada pak Syarif. Syukurlah kami selamat dari bahaya.
Minggu-minggu berlalu dengan terus memperbaiki karya kami dan melakukan wawancara setiap hari Minggu.
“Akhirnya, list wawancara kita selesai”, ujarku seraya turun dari KRL di stasiun di Pasar Minggu. Setelah seharian berkeliling sampai ke Gambir dan sebagainya.
“Abis ini kita masih harus ngolah hasil wawancaranya. Belum lagi nyusun bab tiganya”, kata Tere.
“Oh iya! Gue baru ngeh, kita masih harus bikin tabel analisis data! Susah tuh lumayan”, ujarku.
“Yaudah kita kerjain aja dengan senang hati”, ujar Ifa.
20 Oktober 2008, kami menyerahkan karya kami untuk selanjutnya mendapat coretan-coretan dari pak Donovan.
“Banyak yang harus dibenahi nih, Be”, kata Saskia.
“Iya. Manalagi nyokap gue mulai ngoceh soal gue balik sore tiap hari. Padahal jelas-jelas buat lomba!”, ujarku.
“Kita kelarin. Kita menangin. Kita sumpel mulut nyokap-nyokap pake piala”, kata Tere.
Aku dan Tere serempak menyeringai, sedang Saskia dan Ifa hanya tersenyum.
Pukul 18.30 aku baru tiba di rumah. Mama melakukan pidato malam. Pidato pagi tampaknya kini tidak cukup untuknya. Aku masuk kamar dan mengabaikannya. Seperti biasa. Aku merasa sudah tahu semua yang Mama katakan.
Malam itu, sebelum tidur, aku berdoa khusus untuk Mama, supaya ia mengerti bahwa aku sudah besar. Selesai berdoa, kubuka buku harianku, kutulis:
Terkadang, orangtua hanya tidak cukup mengerti jaman telah berubah.
Tetapi, tidak baik menyakiti hatinya dengan mengatakan itu.
Setelah berkali-kali melewati proses editing, pada tanggal 17 November 2008 kami menyerahkan karya kami untuk dikirimkan kepada panitia. Malam harinya, aku merenungkan tentang Mama. Aku tahu sangat berat menjadi seorang single-parent untuk 11 tahun bahkan mungkin selamanya. Berjuang seorang diri menghidupi ketiga anak perempuannya. Tetapi, aku melakukan sesuatu yang sulit pasti untuk membuat Mama bangga. Hanya demi mengukir senyum kecil ditengah kesulitan hidupnya. Mama telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk kebahagiaanku dan adik-adikku, aku tidak akan membuang sedetik pun hidupku tanpa berjuang meniti kebahagiaan Mama di hari tuanya. Aku pernah berjanji pada diriku sendiri, aku hanya mau mencari ayahku saat aku sudah sukses, dan hanya jika aku sukses.
Aku berdoa dan menulis di buku harianku:
Kepahitan hidup dan kegetiran hati adalah kekuatan dan motivasi untuk mencapai keberhasilan hidup. Darimanapun air mengalir, akan berujung di samudera. Setiap manusia lahir dengan keberhasilan masing-masing, tinggal bagaimana dia menemukan caranya.
Senin, 29 November 2008. Surat panggilan presentasi datang kepada dua dari empat tim dari sekolahku. Salah satunya, tim kami. Hari-hari berlalu dengan pulang jam 8 malam setiap harinya demi menyusun presentasi.
Tanggal 6 Desember 2008, kami datang ke tempat pelaksanaan tahap presentasi. Kami adalah satu dari 40 tim yang berlomba di jalur IPS. Setiap tim diwakili oleh satu orang untuk mempresentasikan karyanya.
Ketika presentasi, aku ditatap oleh 4 juri dari LIPI yang bergelar professor, ditambah dengan puluhan peserta yang pasti anak-anak cerdas. Rasa minder kerap menyelimutiku, tetapi aku terus mengingat motivasiku, latar belakang aku mengikuti perlombaan-perlombaan selama ini. Aku juga tidak akan menyia-nyiakan tiga bulan ini pergi pagi pulang petang dengan melakukan kebodohan karena gugup.
Setelah presentasi, dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab dengan keempat juri yang ada. Setelah sesi tanya-jawab selesai, kami dipersilahkan duduk.
“Kita cabut aja yuk keluar, daripada kita down ngeliatin yang lain”, kata Tere.
Aku, Ifa, dan Saskia setuju.
Pukul 16.00 perlombaan selesai. Lalu, juri masuk ke dalam ruang penjurian. Detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam berlalu. Kami menanti pengumuman pemenang. Tidak ada tanda-tanda juri telah selesai bermusyawarah. Waktu terasa begitu lama, tidak seperti biasanya.
Pukul 20.30 juri keluar dengan surat keputusannya. Pengumuman pemenang tidak berlangsung bertele-tele, mengingat hari sudah sangat larut.
“Yakin gak lo?”, ujar Tere.
“50-50 (fifty- fifty)”, jawab Saskia.
“Berdoa aja, ikhlasin apapun hasilnya”, kata Ifa.
Aku hanya terdiam, mengingat semua pengorbanan kami.
Juara harapan 2, harapan 1, juara 1 sudah terlewati. Belum ada panggilan untuk kami. Lalu, juara 2.
Lalu, “Dari SMP Negeri 85 Jakarta, sebagai juara ke-3, dengan judul Manfaat Penggunaan Teknologi Transportasi Bagi Masyarakat Luas serta Dampaknya Terhadap Lingkungan”, ujar pembaca surat keputusan juri.
Kami berempat hanya tersenyum kecil mewakili kepuasan besar dalam hati.
Malam itu, aku berdoa khusus mengucap syukur atas kemenangan kami. Selesai berdoa, kubuka buku harianku, kutulis:
Kesuksesan seseorang tidak pernah sebanding jika dinilai dengan sebuah piala. Buatku, pengalaman dalam usaha meraihnya jauh lebih berharga daripada hari dimana aku mendapatkannya.
Esok harinya di sekolahku ada pengumuman tentang perlombaan lagi. Aku, Ifa, Tere, dan Saskia menyeringai berbarengan membaca informasi selengkapnya di mading sekolah kami. Sebuah kompetisi matematika.
“Permainan baru”, ujar Tere.
Aku, Ifa, dan Saskia menyeringai.
Malam itu kutulis dalam buku harianku:
Kesempatan tidak datang hanya satu kali.
Tetapi, hidup ini terlalu singkat untuk menunggu yang kedua.
Di halaman terakhir buku harianku, kutulis:
Bersama Tere, Ifa, dan Saskia …
Menapak, MEMBANGUN JATI DIRI.